Mayoritas ekonom menilai penciptaan lapangan kerja di Indonesia memburuk Jakarta, 28 Oktober 2026 – Sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa mayoritas ekonom menilai kondisi ketenagakerjaan di Indonesia memburuk dalam enam bulan terakhir. Survei tersebut, yang melibatkan 63 ahli ekonomi, dilakukan antara 21 dan 13 Oktober 2026. Menurut hasil survei, 73 % responden memberikan penilaian negatif terhadap penciptaan lapangan kerja. Dari 63 ekonom, 30 orang (48 %) menilai penciptaan lapangan kerja lebih rendah, sementara 16 orang (25 %) menilai kondisinya jauh lebih rendah dibandingkan enam bulan sebelumnya. “Kondisi tersebut menunjukkan kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas penyerapan tenaga kerja,” kata YB Suhartoko, dosen magister ekonomi terapan Universitas Atma Jaya. Ia menambahkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,1 % pada 2026 oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan 5,2 % oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), penyerapan tenaga kerja belum sebanding dengan pertumbuhan tersebut. Menurut Suhartoko, “Melihat data ini seharusnya menghasilkan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar,” namun struktur ketenagakerjaan masih menunjukkan persoalan. Data ketenagakerjaan pada Mei 2026 menunjukkan jumlah pekerja penuh waktu mencapai 98,98 juta orang, pekerja paruh waktu 38,42 juta orang, dan setengah pengangguran 10,79 juta orang. Besarnya jumlah pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran, ditambah banyaknya pekerja kontrak, menunjukkan kualitas penyerapan tenaga kerja perlu ditingkatkan. Sementara itu, Bagong Suyanto, pakar sosiologi ekonomi Universitas Airlangga, menyoroti dampak sosial dari terbatasnya kesempatan kerja. Ia mengatakan bahwa ketidakpastian pekerjaan dapat membuat anak muda menunda pernikahan, keluarga menahan pengeluaran, dan pekerja mengkhawatirkan masa depan. Kondisi tersebut juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosial karena kelompok berpendidikan dan memiliki jaringan pekerjaan lebih mudah memperoleh kesempatan dibandingkan masyarakat dengan sumber daya terbatas. Awan Santosa, peneliti di Mubyarto Institute, menilai hasil survei tersebut sejalan dengan keluhan masyarakat mengenai minimnya lapangan kerja. Menurutnya, penurunan tingkat pengangguran terbuka tidak boleh menutupi persoalan pengangguran tersembunyi dan setengah pengangguran. Survei juga mencatat peningkatan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dari 1,037,7 triliun rupiah pada kuartal I‑2026 menjadi 1,089,5 triliun rupiah pada kuartal II‑2026. Meskipun investasi dan konsumsi rumah tangga menjadi penopang pertumbuhan, data menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja belum sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.
Article source: Koran Jakarta | Image credit: Koran Jakarta