Warga Desa Batu Tumpang, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, terpaksa menggunakan air kubangan kotor di bekas galian tanah untuk mandi dan mencuci selama tiga bulan terakhir akibat krisis air bersih. Air berwarna keruh kecokelatan, bercampur lumpur, sampah plastik, dan lumut di tepian kubangan menjadi pemandangan sehari-hari.
Sejumlah ibu-ibu tampak mencuci pakaian di tepian kubangan, sementara anak-anak mandi menggunakan air dari genangan tersebut. Seorang warga bernama Nina mengatakan, ‘Sudah tiga bulan enggak ada air. Terpaksa air kubangan digunakan untuk mandi dan mencuci.’
Air kubangan hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Untuk memasak dan minum, warga membeli air isi ulang seharga Rp5 ribu per galon atau air mineral Rp20 ribu per galon. Kondisi ini terjadi setiap musim kemarau, dan warga sadar air bekas galian tidak baik, tetapi tidak ada pilihan lain.
Bantuan air bersih dari Pemerintah Daerah tidak mencukupi karena pengiriman tidak setiap hari dan jumlah warga yang membutuhkan sangat banyak. Peristiwa ini menyoroti kebutuhan mendesak akan solusi air bersih yang berkelanjutan di daerah tersebut.
Article source: mediaindonesia.com | Image credit: Ayo Bandung
Johann ‘Jesus’ Harry Released After Government Revokes Preventive Detention Order Issued In June 2026
Kapouchie Thanks Supporters After Marriage, Says He And Wife Built Something Real Against Criticism
Prestige Holdings Reopens Refurbished Subway Outlet in Port-of-Spain With Mayor Chinua Alleyne Present
Teacher Reportedly Held at Gunpoint and Robbed During Class at San Juan North Secondary
KG And Kareem Marcelle Share Light Moment As Community Unity Continues To Take Shape
Wetman Kenrick Celebrates 62nd Birthday, Sharing One Love Message With Fans Across Trinidad and Tobago