Ilmuwan: Kebakaran Hutan Bisa Picu Lonjakan Kanker Kepala dan Leher, Risiko Meningkat hingga 41 Persen

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":[],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"resize":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

CAMBRIDGE – Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa paparan polusi udara akibat asap kebakaran hutan berpotensi meningkatkan risiko kanker kepala dan leher. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya frekuensi kebakaran hutan yang dipicu oleh suhu musim panas ekstrem di Inggris dan sejumlah wilayah Eropa sepanjang tahun 2026. Berdasarkan laporan yang diterbitkan dalam jurnal The Laryngoscope, para peneliti menganalisis data selama 16 tahun terkait kebakaran hutan dan kejadian kanker kepala dan leher. Hasil studi menunjukkan bahwa paparan polusi asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kepala dan leher sebesar 6 persen. Angka tersebut meningkat hingga 41 persen pada kelompok yang terpapar polusi tersebut secara rutin setiap tahun. Fokus utama penelitian ini terletak pada partikel mikroskopis PM2.5, yakni polusi udara berukuran sangat kecil yang mampu menembus jauh ke dalam sistem pernapasan. Asap kebakaran hutan mengandung campuran partikel dan senyawa berbahaya yang komposisinya bervariasi tergantung pada material yang terbakar. Karena asap dapat terbawa angin hingga menjangkau wilayah yang jauh dari titik api, ancaman kesehatan ini tidak terbatas pada penduduk di sekitar lokasi kebakaran saja. Para peneliti menekankan bahwa temuan ini memperkuat bukti mengenai dampak buruk polusi udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan manusia. Mereka menyatakan bahwa hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya penguatan regulasi untuk memitigasi dampak perubahan iklim. Namun, para ahli mengingatkan agar angka peningkatan risiko tersebut dipahami secara tepat. Persentase 6 persen dan 41 persen merupakan peningkatan risiko relatif, bukan berarti setiap orang yang terpapar asap akan menderita kanker. Besarnya risiko absolut bagi individu tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan. Temuan ini menegaskan bahwa dampak kesehatan dari kebakaran hutan bersifat jangka panjang dan melampaui batas geografis lokasi kejadian. Oleh karena itu, upaya mitigasi dinilai tidak hanya harus berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pencegahan kebakaran, pengendalian sumber polusi, pemantauan kualitas udara, serta perlindungan masyarakat saat asap menyebar.

Article source: Koran Jakarta | Image credit: Koran Jakarta

News Desk: News Desk is the editorial publishing account for Tringlobe Media News, covering breaking news, public affairs, entertainment, community developments and regional stories across Trinidad and Tobago, the Caribbean and internationally.